Jika kamu memiliki
kemampuan yang lebih dari pada orang lain, apa yang akan anda lakukan?
Apakah kamu akan bertahan di Indonesia dengan konsekuensi kemampuan kamu
tidak bertambah dan berkembang, atau memilih untuk berkarya di luar
negeri dan akan meraih kesuksesan disana. Yang kurang kita tau adalah banyak orang-orang Indonesia penuh prestasi
dan dedikasi yang bisa saja sewaktu-waktu 'dinaturalisasi' (pindah
kewarganegaraan) karena tidak mendapat perhatian dari negaranya sendiri.
Berikut ini adalah beberapa orang Indonesia yang berprestasi di Luar Negeri sana, namun tetap cinta Indonesia.
Berikut ini adalah beberapa orang Indonesia yang berprestasi di Luar Negeri sana, namun tetap cinta Indonesia.
Sehat Sutardja
Sehat
adalah cerita sukses perjuangan seorang imigran yang tetap mengagungkan
ilmu untuk meraih sukses. Sadar menjadi cerdas di Indonesia tak bakalan
dihargai oleh negara , ia hijrah ke AS saat usianya masih 19 tahun.Bersama kakaknya, Pantas Sutardja, Sehat mendirikan Marvell Technology Group, perusahaan yang terdaftar dan go public di indeks bursa Nasdaq New York Stock Exchange.
Namanya tercantum dalam majalah Forbes dengan kekayaan bersih 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp. 10 triliun ( kurs Rp. 10 ribu per dolar AS . Kini Marvell, berkibar sebagai perusahaan yang paling dipercaya publik tahun 2005.
Marvell tercatat sebagai one of the best managed company in America dan menjadi kampium di semi-conductor company top ten list. Semuanya bergengsi karena yang memilihnya adalah majalah Forbes.
Nelson Tansu
Nelson adalah peraih gelar profesor termuda di AS.
Ilmuwan kelahiran Medan, 20 Oktober 1977. Ia meraih gelar profesor di
bidang electrical engineering sebelum berusia 30 tahun. Ia menjadi
lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team
Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar sarjana dari Wisconsin
University yang ditempuhnya dalam 2 tahun 9 bulan dan dengan predikat
Summa Cum Laude. Ia meraih gelar PhD dalam usia 26 tahun di universitas
yang sama. Nelson mengaku, orang tuanya hanya membiayai pendidikannya
hingga sarjana. Selebihnya, karena otaknya yang encer, ia menjadi
rebutan tawaran beasiswa. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama
yang menjadi profesor di Lehigh University, tempatnya bekerja sekarang.
Yow-Pin Lim
Riset yang dihasilkan pria kelahiran Cirebon 49 tahun yang lalu ini berkontribusi pada pemahaman terhadap molekul kompleks pada fisiologi manusia dan berbagai macam penyakit, terutama sepsis, anthrax, dan kanker. Lim kini memiliki beberapa paten, antara lain Preparative Electrophoresis Device and Methods for Detecting Cancer of the Central Nervous System. Hebatnya penemuan Lim menjadi acuan utama rumah sakit-rumah sakit di AS saat ini.
Yanuar Nugroho
Tahun 2009 lalu, seorang putra Indonesia menyedot perhatian dunia akademik di Inggris . Namanya Yanuar Nugroho, pengajar
di Institut Kajian Inovasi atau Manchester Institution of Innovation
Research dan Pusat Informatika Pembangunan Universitas Manchester.
Yanuar meraih penghargaan sebagai dosen terbaik 2009 dan hebatnya ia
adalah satu-satunya orang Indonesia yang jadi dosen di Inggris. Menurut
Yanuar, Desember tahun lalu, kriteria utama penilaian penghargaan
tersebut adalah sumbangan akademik lewat penelitian, tulisan, seminar,
kuliah dan konferensi. Selama dua tahun terakhir ini, ia terlibat pada
lebih dari 15 penelitian yang didanai oleh Uni Eropa, Dewan Riset
Inggris, Dewan Riset Eropa, serta Departemen Industri dan Perdagangan
Inggris. Selain mempublikasikan tulisannya di berbagai jurnal
internasional, presentasi di konferensi kelas dunia, dan menjadi dosen
tamu di beberapa universitas termasyhur, seperti Oxford dan Cambridge.
Nugroho adalah alumnus Teknik Industri ITB tahun 1994. Ia mendapatkan
gelar PhD-nya dari Universitas Manchester dalam waktu kurang dari tiga
tahun pada 2007, dan menyelesaikan post-doctoral pada 2008. Sejak
Agustus 2008, Nugroho menjadi staf penuh di Universitas Manchester.
Ken Soetanto
Ken
Soetanto mungkin menjadi orang Indonesia yang paling sukses berkiprah
dari sisi akademik di luar negeri. Bayangkan, ia sudah mematenkan 31
penemuannya, 29 di Jepang, dua di AS, untuk bidang interdisipliner ilmu
elektronika, kedokteran, dan farmasi.Soetanto juga adalah peraih gelar profesor dan empat doktor sekaligus dari empat universitas berbeda di Jepang. Sebegitu terkenalnya Soetanto di Jepang sampai-sampai oleh mahasiswanya ia memiliki metode khusus mengajar yang diberi nama “Metode Soetanto” atau “Efek Soetanto”.Metode ini menekankan pada menggali aspek yang menyentuh hati mahasiswa dan mengumandangkan motivasi serta pemahaman tujuan yang ingin diraih. Pemerintah Jepang sangat menghargai Soetanto yang sudah menjadi warga Jepang ini. Satu penemuannya bernama NEDO (The New Energy and Industrial Technology Development Organization) memberinya penghormatan sebagai penelitian puncak di Jepang dalam rentang 20 tahun, 1987-2007. “Itu riset smart medicine atau obat cerdas yang mampu menelusuri sistem jaringan pembuluh darah untuk mencari sel-sel kanker dan melumpuhkannya,” kata Soetanto. Mengapa ia hijrah ke Jepang? Soetanto mengatakan, “Negara tanpa riset akan lemah. Riset harus dikembangkan melalui pendidikan yang baik. Di Indonesia, Soetanto pernah merasa terbuang. Tahun 1965, ketika terjadi pergolakan politik menentang komunisme, hak mendapat pendidikan Soetanto terampas. Sekolahnya, Chung-Chung High School di Surabaya ditutup untuk selamanya.
Soetanto hanya menyelesaikan pendidikannya sampai kelas I SMA. Selama tak lagi bersekolah, dia bekerja mereparasi elektronik di toko abangnya di Surabaya. Setelah uang terkumpul, berangkatlah dia ke Jepang tahun 1974.
Andreas Raharso
Andre Surya
Seorang Digital Artist dan Special Efect film.( Terminator, Iron Man, Star Trek, Transformer)KITA JUGA HARUS BISA SEPERTI MEREKA......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar